giLanYa ciNta yaNg buTa
February 18, 2007 by eunikesabatina
Pada masa dulu, sebelum dunia
diciptakan
seperti yang kita kenal sekarang,
dan
manusia
belum lagi menginjakkan kakinya di
sana,
semua
sifat kebaikan dan kejahatan
berkeliaran tak tentu
arah dan merasa bosan, tak tahu apa
yang
hendak dilakukan.
Suatu hari, mereka berkumpul dan merasa
lebih bosan lagi daripada sebelumnya,
sampai
ketika Kecerdikan mengemukakan
usul :
"Mari
kita
bermain petak umpet."
Mereka semua
menyukai
ide tsb,
dan secara tiba2
Madness/Kegilaan
berteriak:
"Aku ingin menghitung, biar
aku saja
yang menghitung!"
Dan karena tidak ada yang cukup gila
untuk
ingin mencari kegilaan,
semua yang lain
setuju
saja.
Kegilaan segera bersandar kepohon
dan
mulai menghitung, "Satu, dua, tiga…"
Sementara Kegilaan menghitung,
semua
sifat
kebaikan dan kejahatan tsb bersembunyi.
Kelembutan menggantung dirinya di ujung
bulan,
Pengkhianatan bersembunyi di tumpukan
sampah.
Kasih sayang bergulung di
antara awan,
dan Nafsu Kegairahan pergi ke tengah2
bumi.
Kebohongan berkata akan bersembunyi di
bawah batu,
tapi ternyata justru
bersembunyi di
dasar danau.
Sementara itu, Ketamakan
masuk
ke dalam kantung yang kemudian ternyata
dirobeknya karena kantung itu dirasanya
tidak
nyaman.
Dan Kegilaan masih terus
menghitung,
"Tujuh
puluh sembilan, delapan puluh, delapan
puluh
satu…"
Ketika itu, semua sifat tsb
telah
bersembunyi — kecuali Cinta.
Seperti
keragu-raguan, demikianlah cinta,
dia
tak bisa
memutuskan kemana harus bersembunyi.
Dan ini tentu tidak mengejutkan
karena kita semua tahu betapa sulitnya
menyembunyikan cinta.
Pada saat
Kegilaan
sampai pada hitungan ke-99,
Cinta
segera
melompat bersembunyi ke kebun bunga
Mawar.
Dan dengan bersemangat Kegilaan
berbalik dan berteriak,
"Bersiaplah,
ini aku
datang! Akan kutemukan kalian semua"
Kemalasan adalah yang pertama
ditemukan,
karena dia bahkan tidak
punya energi untuk mencoba bersembunyi,
disusul oleh keragu-raguan, yang masih
mondar-
mandir
karena tak tahu ke mana harus
sembunyi.
Kemudian, secara hampir beruntun
Kegilaan
segera menemukan
Kelembutan di ujung
bulan,
Kebohongan didasar danau dan Gairah di
tengah2 bumi. Satu persatu Kegilaan
menemukan
mereka semua, kecuali lagi2 Cinta.
Kegilaan
mulai menjadi semakin gila, karena
putus asa
untuk menemukan Cinta.
Tapi Kecemburuan yang iri pada Cinta
yang
belum juga ditemukan,
berbisik pada
Kegilaan, "Kau hanya perlu
mencariCinta,
dan dia
bersembunyi di semak bunga Mawar."
Kegilaan
mengambil garpu taman dan
menusuk2annya
serampangan kearah semak Mawar.
Dia
terus menusuk2 sampai terdengar suara
tangis
memilukan
yang membuatnya berhenti.
Cinta
keluar dari persembunyiannya sambil
menutup
mukanya dengan tangan.
Di antara
jari2nya
mengalir darah segar
yang ternyata
berasal dari
kedua belah matanya.
Kegilaan yang terlalu bersemangat untuk
menemukan Cinta,
tanpa sengaja telah
melukai
mata dari Cinta.
"Apa yang telah
kulakukan!"
teriaknya menyesal.
"Aku telah
membuatmu
buta! Bagaimana aku harus
memperbaikinya?"
Cinta menjawab, "Kau tak mungkin
memperbaikinya.
Tapi kalau kamu
bersedia
melakukan sesuatu untukku,
kamu bisa
menjadi
penuntunku."
Dan semenjak itulah, Cinta itu buta
namun dia
bisa melihat dalam kegelapan,
karena
dia selalu
didampingi oleh Kegilaan.